Memulai lagi

Hujan sore ini seperti biasa menenangkan perasaanku dan menghilangkan semua stress yang mengganggu. Hari ini aku baru saja pindah kosan, walaupun itu berarti cuma pindah satu kamar ke samping, setidaknya tetap bisa disebut sebagai pindahanlah.

Waktu begitu cepat berlalu, dan keinginanku untuk bisa membentuk sebuah pribadi yang disiplin dan pekerja keras masih terbentur kebiasaan lama yang bertahun-tahun membelengguku. Perubahan itu begitu menyebalkan dan penuh dengan hal-hal yang aku benci dan menakutkan. Aku pikir tidak ada satupun yang senang meninggalkan kenyamanan yang telah dinikmatinya bertahun-tahun.

Aku tahu, dan ya, aku telah bilang kalau aku akan berubah total beberapa bulan yang lalu. Tapi, waktu berganti dan musim penghujan telah datang. Aku masih orang yang sama. Maksudku, seseorang yang hanya memiliki keinginan untuk menjadi sesuatu yang besar, tapi usaha untuk ke arah sana bahkan tidak pantas untuk disebut kecil. Dalam beberapa hal, aku malah bisa dikatakan mengalami kemunduran.

Tapi, bukan berarti aku tidak menyadarinya. Waktu terus berjalan dan tidak mungkin aku masih menjadi orang yang sama seperti aku sekarang. Pemalas yang lebih senang bergumul dengan selimut dibandingkan belajar di malam hari dengan segelas kopi, lebih senang menutup mata menikmati mimpi di pagi hari pada saat para ayam bahkan sudah kembali merasa lapar. Aku sadar itu. Dan, seharusnya, dengan masa kritis, tahun-yang aku harap- terakhirku kuliah, aku telah siap untuk menghadapi kerasnya hidup di masyarakat. Aku tidak boleh lagi bergantung pada kedua orangtuaku ataupun orang lain selain tuhan. Karena, aku sudah lebih dua puluh tahun, dan seharusnya pada masa ini, jika aku hidup di zaman nenek moyang, aku telah memiliki lebih dari 3 orang anak.

Zaman berubah, karena itulah, perubahan bagiku merupakan sebuah keharusan yang mau tidak mau harus aku wujudkan. Kemampuan beradaptasi. Bukankah itu yang menyebabkan makhluk berjenis manusia bisa hidup sampai sekarang dan menjadi tingkatan pertama dalam strata kehidupan di bumi?. Memalukan bukan jika aku sebagai seorang yang tuhan katakan, sebaik-baik ciptaanNya, malah terpuruk dalam kompetisi hidup. Tuhan tidak mungkin salah telah menciptakan aku sebagai seorang manusia. Akulah yang salah karena tidak menggunakan semua potensi yang telah tuhan berikan padaku. Bahkan, tidak seperti sebagian manusia lainnya yang kekurangan dalam beberapa hal, tuhan telah memberikan semuanya padaku, fisik dan jiwa, yang sempurna. Tapi, aku tidak menggunakannya secara sempurna, dan aku minta ampun pada tuhan karena kurang bersyukur atas nikmat yangdiberikannya.

Satu tahun, dalam satu ke depan, jika semuanya sesuai rencana, maka aku telah lulus dari kuliah dan mendapatkan gelar sarjana pendidikan. Itu berarti, aku telah lepas dari status sebagai seorang pelajar formal, dan harus bisa menjadi seorang anggota msyarakat yang berguna, untuk diri dan orang lain. Terutama sekali, aku ingin membuktikan pada diriku, kalau aku bisa mencapai apa yang aku inginkan, aku bisa menjadi apa yang aku inginkan.

Satu tahun ke depan, aku akan mengerahkan segalaku, aku tidak akan menghitung apapun selain tercapainya target yang aku canangkan. Dan, targetku adalah melampaui semua target-target tersebut. Terimakasih terhadap salah satu buku Haruki Murakami dalam hal ini. What I talk about, when I talk about running. Buku itu sangat memotivasiku untuk mengerahkan semua potensi yang aku miliki untuk mencapai apa yang aku inginkan. Karena buku ini juga, aku jadi ingin ikut lomba marathon dan menulis target berapa km yang ingin aku tempuh dengan berlari dalam sebulan.

Satu tahun ke depan, tidak ada yang tahu pasti apa yang akan terjadi padaku, apakah aku masih hidup atau tidak, apakah aku bisa mencapai targetku atau tidak, apakah aku bisa mengalami hidup yang panjang atau tidak, tidak ada yang tahu pasti selain tuhan yang menguasai takdir. Karena itulah, aku akan menjalani hidupku seakan aku akan mati esok hari, dan seakan aku akan hidup selamanya. Menghargai setiap detik waktu, dan melakukan apapun untuk mewujudkannya adalah salah satu kunci sukses yang paling penting, yang aku baca tentang orang-orang yang sukses dalam hidupnya.

Mulai hari ini, 19 september 2019-19 agustus 2019, aku akan mengerahkan segalanya, yang legal, untuk mewujudkan target yang aku canangkan. Tapi, meski aku telah menetapkan targetku, aku harus tetap menjaga satu hal, nikmati setiap proses dan kejadian yang di alami. Jika tidak menikmatinya, untuk apa semua kesuksesan itu.

Salam, enjoy the moment

19 september 2016

Aku Muak Dengan Keadaanku Saat Ini

Umurku, 5 bulan lagi akan menjadi 23 tahun. Umur memang hanyalah angka, tapi itu merupakan angka yang menjadi penunjuk yang menunjukkan dimana posisiku saat ini. Aku akan jujur padamu teman, aku sama sekali benci dengan diriku dan posisiku saat ini. Aku tidak bisa dengan tenang menerima keadaan diriku yang seperti ini.  Bayangkan, saat ini aku masih kuliah di tahun ke empat dan masih menerima uang dari orang tua. Sementara, banyak di antara teman-temanku yang sudah bekerja dan memiliki penghasilan. Aku tidak sudi mengakuinya, tapi mereka lebih baik dariku. Dan, aku tidak mau menerima keadaan yang menyakitkan ini. Sebuah keadaan yang jika aku biarkan pasti akan membuat masa depan suram.

Semakin hari, perasaan rendah diriku semakin bertambah. Terlebih lagi melihat kesuksesan orang-orang yang usianya lebih muda dariku. Mereka telah berhasil meraih impian mereka, mengunjungi negeri yang mereka impikan, mendapatkan posisi yang mereka perjuangkan.

Aku tahu kenapa dan mengapa aku masih berada di pihak, yang meski berat akui, pecundang. Aku tidak berusaha keras dalam mengejar target-target yang aku canangkan. Aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengkhayalkan masa depan dibandingkan waktu untuk melakukan tindakan yang mengarahkanku untuk mewujudkannya.

Tapi, kali ini aku berjanji padamu teman. Tidak ada lagi bagiku waktu untuk bermain-main. Aku akan bekerja minimal 16 jam sehari, sedikit mungkin bermain dan menjauhkan diri dari sosial media tanpa yakin itu benar-benar perlu, belajar dan bekerja keras untuk mimpi-mimpiku. Aku akan memfokuskan diriku pada apa yang seharusnya menjadi tujuan utamaku. Tidak ada lagi yang namanya khayalan tanpa tindakan, tidak ada lagi yang namanya angan-angan kosong yang menghabiskan waktuku untuk hal-hal yang tidak berguna dan menjauhkanku dari apa yang aku cita-citakan.

Untuk itu teman, 5 bulan ke depan, adalah ujian bagiku apakah kata-kataku padamu, janjiku padamu adalah kata-kata kosong belaka atau benar-benar hal yang pasti aku lakukan dengan sungguh-sungguh. Aku telah memasang target yang tinggi dalam 5 bulan ke depan. Tercapai atau tidak, aku serahkan pada yang maha kuasa. Yang pasti, aku akan memberikan 100%ku untuk menjadikannya terwujud.

Fokus pada tujuan tentu merupakan hal yang baik. tapi, aku harus selalu mengingatkan diriku agar jangan sampai melupakan proses. aku harus mengerti kalau tidak ada sesuatu yang luarbiasa bisa tercapai dengan cara yang instan ataupun biasa-biasa saja. Aku telah berjanji padamu teman, dan aku akan menepatinya, apapun yang terjadi.

Satu hal lagi yang perlu aku beritahukan padamu teman. Aku telah menulis 30 target dan di dalamnya juga terdapat bagian-bagian, yang harus aku wujudkan dalam 4 tahun ke depan. dan, salah satunya adalah kebebasan finansial. Ini adalah target yang paling penting yang harus aku raih secepatnya karena dengan meraih kebebasan finansial, aku bisa melakukan dan mendapatkan hal yang susah aku dapatkan kalau aku masih kesulitan dalam bidang keuangan.

Namun, untuk yang tahun ini, 2016, cukuplah dengan target aku bisa membayar uang kuliahku sendiri tahun depan dahulu. karena, di tahun ini, aku masih meraba-raba bagaimana caranya bisnisku ini harus dijalankan. Satu-satunya pemasukan yang aku harapkan bisa tercapai di tahun ini adalah dari hasil menulis.

Dan, Oh ya, doakan aku teman, supaya aku selamat dalam petualanganku mengelilingi jawa. Aku berangkat setelah selesai kkn. Aku melakukan hal ini dalam rangka mengembangkan diriku yang sudah karatan berada di dalam goaku yang nyaman. Aku akan memamfaatkan waktu tujuh hari atau lebih tersebut untuk mengembangkan diriku. Hal yang ingin aku kembangkan dalam hal ini, yang paling utama adalah kemampuan memimpin dan menjalin komunikasi dengan orang lain. Dan, tentu saja, mengasah keberanianku. Karena, aku mengelilingi pulau jawa tanpa melakukan rencananya matang. Bahkan aku tidak tahu pasti dimana aku akan merebahkan diri dalam perjalanan tersebut. Perjalanan yang beresiko, tapi aku yakin apa yang aku dapatkan sebanding dengan perjuangannya. Sengaja aku melakukan perjalanan semacam ini karena memang inilah tujuannya. Mendapatkan pengalaman yang tidak mungkin aku dapatkan dengan hanya duduk-duduk enak di kamar kosanku yang sekarang Alhamdulillah sudah lumayan rapi.

Saat ini, kamu tahu teman, aku merasa gugup. Karena, tidak seperti sebelumnya, aku benar-benar merasakan desakan untuk berubah, untuk maju, untuk keluar dari zona nyamanku yang mematikan pertumbuhanku. Karena, sekali lagi aku tekankan, aku tidak pantas berada dalam kondisi ini. sebuah kondisi yang membuatku merasa diriku adalah seorang pecundang, rendah diri, dan tidak berguna. Aku ingin keluar dari kondisi ini ke kondisi yang membuatku menjadi seorang seorang pejuang, pemenang, dan berguna bagi diriku sendiri dan oran lain. Yah, aku akui, pada akhirnya, umurku yang semakin dewasalah yang menjadi pendorongnya. Aku benar-benar ingin menjadi layaknya orang dewasa, menjadi seseorang yang mampu melindungi apa yang berharga bagiku.

Sekian dulu teman. Nanti, paling tidak, setiap dua minggu sekali aku akan melaporkan perkembanganku padamu. kalau memungkinkan, setiap minggu akan aku lakukan. Tapi, sekali dalam dua minggu tidak masalah juga bukan?.

Tulisan ini, sengaja aku publish di blogku. Agar dunia tahu, agar dunia melihat perkembanganku yang saat ini bukan apa-apa, menjadi seseorang yang besar dan pantas berada di jajaran orang-orang besar dunia.

02 juli 2016

Seorang diri di pintu masuk FIP UPI Bandung

 

Pemuda Yang Lemah

 

“Aku bukanlah orang yang kuat pak. Aku lemah” kata pemuda berusia sekitar dua puluhan tahun tersebut kepadaku. Matanya sayu. Dia membiarkan rambut, kumis, serta jenggotnya panjang tidak terurus. Pakaiannya pun terlihat lusuh. Mungkin tidak pernah di cuci selama paling tidak satu bulan terakhir. Begitu juga celananya yang sobek dan penuh tambalan dan bekas jahitan yang tidak sempurna. Kemungkinan besar dia sendiri yang menjahit sobekan yang ada di bagian lutut dan bagian selangkangan celananya tersebut.

Dia tidak memakai sepatu ataupun sandal. Hanya bertelanjang kaki ketika dia tiba-tiba duduk di sampingku, di pinggir taman, dan tiba-tiba berbicara kalimat di atas. Melihat keadaan dirinya yang seperti itu, aku yakin dia merupakan seorang gelandangan musafir. Maksudku musafir di sini itu karena aku tidak pernah melihatnya di kotaku. Sebagai orang yang lahir dan menghabiskan puluhan tahun usiaku hingga pensiun satu tahun lalu di sini, aku mengenal semua seluk beluk bahkan hingga tempat paling rahasia sekalipun di kota ini. Seperti tempat istri simpanan walikota sekarang dan tempat selingkuhan walikota sebelumnya misalnya.

Aku tidak merasa kasihan sama sekali dengan pemuda ini. Untuk apa aku kasihan hanya karena mendengar kata-kata putus asa darinya. Dia boleh tidak mempunyai harta. Tapi, dia sama sekali tidak terlihat memiliki cacat yang membuatnya tidak bisa menghasilkan uang. Lihatlah otot-otot yang berjejeran di tangannya legam itu. Setidaknya, jika dia tidak bisa menggunakan otak, ototnya sudah lebih dari cukup untuk digunakan sebagai alat pengganjal perut.

“Aku tidak peduli.” kataku tegas.

Dia memandangku dengan pandangan yang menyipit.

“Kenapa?”

“Buat apa aku peduli padamu. Kita bahkan tidak kenal. Dan, lihat!. Apa kamu tidak punya rasa malu mengatakan kalau kamu lemah di usia yang semuda ini. Aku sudah berusia lebih dari 60 tahun. Tapi, aku masih merasa kuat. Serasa hidup masih berjalan di usia dua puluh”

Dia tidak menanggapi.

“Kamu berasal dari mana?” mengalihkan topik pembicaraan, aku pikir tidak ada salah sedikit berbincang dengannya. Lumayan untuk menghabiskan waktuku yang seringkali membuatku bingung harus dihabiskan untuk apa saja akhir-akhir ini.

“Jauh. Di selatan”

“Selatan?. Bukankah daerah tersebut sudah mati. Hancur akibat gempa besar 10 tahun lalu”

Dia mengangguk.

“Bagaimana mungkin?” aku tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutku. Bukankah hanya 10 orang yang selamat dari 10.000 jiwa yang ada di sana. Tapi, 10 orang tersebut seharusnya berada di daratan tengah, pusat pemerintahan. Mereka dibawa ke sana untuk melanjutkan hidup mereka demi menjaga keturunan daerah selatan agar tidak punah.

“Mungkin saja” jawabnya acuh.

“Buktinya” aku masih tidak percaya.

“Tidak ada”

“Kalau begitu aku tidak akan pernah percaya”

“Tidak mengapa” dia tersenyum.

Aku kembali terdiam. Pembicaraan berhenti di sini. Dan, sepertinya, dia sama sekali tidak berniat untuk berbicara denganku. Kata-kata pertamanya tadi lebih kurang, mungkin sejenis informasi. Tapi, inilah yang membuatku semakin penasaran. Apa maksudnya berbicara seperti itu?. Dan, mengapa dia mengatakan hal itu padaku?. Ya, tidak menutup kemungkinan kalau itu hanyalah, sekali lagi, ucapan sambil lalu seorang gelandangan. Tapi, mengapa?.

“Ya, baiklah” aku mencoba kembali memulai percakapan. Kali ini dengan niat lebih dari sekedar menghabiskannya untuk sebuah obrolan biasa.

“Kalau misalnya, kamu memang penduduk daerah selatan. Seharusnya kamu malu mengatakan dirimu adalah orang yang lemah. Daerah selatan terkenal dengan penduduknya yang kuat dan tahan banting terhadap beban dan masalah apapun”

Dia mengangguk.

“Ya, pak. Aku merasa malu. Tapi, kenyataan tidak akan pernah bisa diubah hanya dengan rasa malu. Karena, aku bukanlah orang yang kuat pak, aku lemah.”

Dia mengulangi lagi pernyataannya.

“Kenapa kamu masih bicara seperti itu. Kamu masih muda. Jika kamu merasa lemah. Coba lihat dari sudut pandang yang berbeda. Dari segi tertentu, kamu mungkin adalah manusia terkuat di dunia. Cobalah, misalkan dunia ini hanya tersisa dua orang manusia, aku dan kamu. Pasti kamulah yang lebih kuat dariku. Ototmu masih perkasa, sedangkan ototku sudah lapuk dimakan usia. Ya, aku memang bilang tadi kalau aku masih sekuat saat aku berumur dua puluhan. Tapi, itu hanyalah salah satu cara agar aku menjadi lebih kuat dari aku yang sebenarnya. Itulah yang orang katakan sebagai kekuatan sugesti. Kamu harus tahu itu.”

Dia tersenyum.

“Bukannya tadi kamu bilang, kamu tidak peduli padaku pak?”

“Ya. Itu tadi. Sekarang lain. Aku merasa perlu untuk memberikan ceramah pada anak muda yang seharusnya tidak merendahkan dirinya di hadapan orangtua sepertiku.”

“Terimakasih pak. Perhatianmu sangat aku hargai.”

Dia memandang jauh ke depan.

“Tapi, tetap saja. Aku bukanlah orang yang kuat pak. Aku ini lemah”

Aku mulai merasa marah terhadapnya.

“Mengapa kamu berpikiran seperti itu?. Baru kali ini aku berbicara dengan anak muda yang kepercayaan dirinya serendah dirimu”

“Terimakasih pak. Bapak adalah orang yang kesekian berbicara seperti itu padaku. Tapi, tetap saja pak. Aku bukanlah orang yang kuat, aku ini lemah”

“Terserah kamulah anak muda” ujarku mendesah. Aku tidak ingin diriku semakin memasuki anak muda ini.

“Sekarang, apa yang ingin kamu lakukan?”

“Tidak ada. Tidak tahu. Aku hanya ingin duduk di sini hingga matahari terbenam.”

Aku tertawa.

“Matahari tidak akan pernah terbenam. Kamu seharusnya tahu itu. Hingga kamu menjadi tulang belulang sekalipun, tidak mungkin hal itu terjadi. Tenggelamnya matahari hanyalah kisah pembohong yang menjual kebohongannya. Tidak ada yang bisa dilakukan terhadap fakta itu.”

Dia mengangguk.

“Ya, pak. Aku akan menunggu hal itu terjadi”

Aku kembali tertawa. Sudahlah. Tidak ada gunanya berbincang dengan orang gila. Ya, hanya orang gila yang masih beripikir kalau matahari akan terbenam. Tidak mungkin hal terjadi. Matahari terbenam hanya terjadi di dunia nyata. Sedangkan ini adalah dunia khayalan, dunia mimpi. Jadi, apakah kamu pikir di dunia khayalan matahari bisa tenggelam. Hahahah. Tanyalah ke setiap orang yang ada di dunia ini, yang masih waras, mereka akan menertawakanmu.

“Terserah kamulah anak muda. Aku akan menemanimu selama beberapa jam ke depan. Lagipula, akulah yang pertama duduk di sini.”

“Terimakasih sekali lagi pak.”

kemudian kami kembali terdiam. Sesekali saja aku mengajaknya berbicara. Selebihnya aku menghabiskan waktuku dengan membaca buku. Waktu terus berjalan, aku tidak menyadari, tiba-tiba saja seseorang menepuk bahuku.

“Kamu ketiduran pak.”

Aku mengucek mataku. Ketiduran?. Bagaimana mungkin?. Seharusnya tidak ada yang namanya tidur di dunia ini. Tidur hanya milik dunia nyata. Dan tunggu, ada yang aneh. Kenapa aku hanya bisa melihat samar-samar wajah anak muda ini. Aku kembali mengucek mataku. Anak muda itu masih tersenyum. Aku memandang sekelilingku, cahaya temaram telah melingkupi pandangan mataku yang masih bisa melihat jernih. Mataku kembali berpandangan dengan mata si pemuda yangm asih tersenyum dengan pandangan mata bermakna campur aduk. Dia mengalihkan pandangannya ke atas. Berkata dengan suara pelan dan lirih.

“Aku bukanlah orang yang kuat pak. Aku ini lemah”

Aku menatap langit, terpana, bulan sudah bertengger di sana menggantikan matahari.

MAMAKU

Orang menyebutnya wanita gila, tapi aku memanggilnya mama. Bukan, aku sama sekali tidak memiliki hubungan darah dengannya. Tapi, karena kebetulan aku tidak mempunyai orangtua, maka aku mengangkatnya sebagai orangtuaku. Wanita gila ini adalah “mama” pertama dalam hidupku. Itu karena, orang yang seharusnya aku panggil sebagai mama, berdasarkan hubungan darah, sama sekali tidak mengakuiku. Dia meninggalkanku, yang masih bayi, begitu saja di samping sebuah warung kopi di dekat pasar. Untunglah, kakek yang menjaga warung kopi tersebut berbaik hati memungutku. Dan, semenjak itu hingga sekarang, aku diangkatnya sebagai cucu. Begitulah cerita kakek saat aku bertanya padanya tentang masa laluku.

Kakek angkatku tersebut, menatapku dengan pandangan menertawakan saat aku memperkenalkan wanita gila ini sebagai mamaku. Tapi, paling tidak, aku tidak perlu lagi malu kepada anak-anak yang bergelayutan manja di tangan mama mereka yang sering aku lihat di taman bermain kota. Jika melihat mereka, aku pasti menghindar. Aku takut ditanya mengenai orangtuaku. Tapi, sekarang aku tidak perlu lagi malu. Mamaku telah berada di sampingku sekarang.

Tidak perlu aku janji-janji dari calon-calon presiden tentang kesejahteraan bagi rakyat kecil di negeri ini. Adanya seorang mama dan seorang papa sudah lebih dari cukup untukku mendapatkan prediket rakyat kecil yang sejahtera. Kalau saja para calon presiden itu datang ke kota kami, dan bertanya apa yang aku inginkan sebagai rakyat kecil dari mereka, aku tidak akan egois memikirkan diriku sendiri. Aku akan meminta agar dia memberikan mamaku seorang suami. Tidak perlu waras. Gila pun jadi. Sayang, sampai sekarang tidak ada calon presiden satu pun yang datang ke kota ini. Bahkan setelah pemilu berakhir, tidak ada satupun di antara mereka yang datang. Yah, mungkin di pemilu selanjutnya aku harap ada yang datang ke kota ini dan menjanjikan suami untuk mamaku, pasti aku akan memilihnya.

***

Aku bertemu dengan mamaku secara kebetulan. Saat itu aku sedang menikmati makan siangku di sebuah bangku yang terbuat dari bambu, di pinggir sebuah kompleks pemakaman. Aku adalah seorang pemulung ketika sedang tidak menjaga warung kopi kakek. Aku tidak sekolah. Kakek tidak memiliki cukup uang untuk itu. Tempat tinggalku adalah gubuk kecil, terletak tidak jauh dari bangku bambu yang berada di dekat komplek pemakaman tersebut. Gubuk ini milik kakek sebelum dia memulai usaha warung kopinya. Tempat ini sekarang dijadikan sebagai tempat untuk beristirahat para penggali kubur. Biasanya, ketika ada mayat yang akan dikuburkan, kakek akan dengan senang hati meminjamkan gubuknya. Dengan imbalan, para penggali kubur tersebut memesan kopi dan jajan di warungnya.

Nah, ketika aku akan memasukkan suapan pertama makan siangku, seorang wanita datang. Dia berpakaian sangat kumuh, kotor, dan bau. Rambutnya beruban dan acak-acakan. Siapa pun yang melihat, pasti akan menutup hidung. Karena aku yang biasa bergumul dengan sampah pun, bisa mencium baunya. Dia pasti sudah tidak mandi selama bertahun-tahun. Di tangan kanannya terdapat sebuah boneka mainan berbentuk manusia. Dia menggenggam erat boneka tersebut. Aku pernah melihat boneka seperti itu di toko mainan. Kalau tidak salah namanya boneka Barbie.

Mamaku menatapku dengan pandangan yang tidak aku mengerti. Dia hanya menatapku tanpa melakukan gerakan apapun. Saat itu, aku ingin lari karena sedikit banyak, ada rasa takut yang muncul. Tapi, pandangan matanya membuatku tidak mampu bergerak pergi dari bangku ini. Ada sesuatu yang hangat muncul dari tatapan matanya. Aku tidak tahu ataupun mengerti apa itu. Tapi, aku bisa merasakannya. Karena itu, aku putuskan itu memasukkan suapan pertama yang tadinya sempat tertunda. Tepat saat suapan pertama telah meluncur kencang menuju perutku yang nyaris busung lapar, mamaku tiba-tiba mencium boneka yang ada di tangannya tadi. Lembut, dia membelai-belai kepala boneka tersebut. Tersenyum, dia memperlihatkan giginya yang kuning kepada boneka tersebut.

Makanlah nak!”

Dia berkata seperti itu sembari tetap membelai-belai kepala boneka tersebut. Kemudian dia berpindah, bergerak menuju bangku tempatku makan. Dia duduk tepat di sampingku sembari masih membelai-belai benda kesayangannya. Aku beranjak sedikit dari tempat dudukku. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Kemudian, tiba-tiba dia bernyanyi dengan kata-kata yang masih aku ingat jelas. Karena kata-kata inilah yang selalu dia nyanyikan berulang-ulang dengan nada dan irama yang berubah-ubah.

Cepatlah besar anakku.

Jadilah pintar.

Jadilah presiden”

Dia terus bernyanyi seperti itu tanpa mempedulikan aku sama sekali. Yakin dia tidak akan melakukan apapun padaku, aku melanjutkan makanku yang tertunda. Dia terus menyanyikan lagu ini hingga aku telah menyelesaikan setengah dari nasiku. Aku sengaja menyisakan setengah dengan niat untuk diberikan kepadanya. Jadi, setelah meneguk air minum, aku pergi beranjak meninggalkannya. Tanpa kata aku pergi. Namun, aku sempat berpaling, ingin melihat apa yang akan dilakukannya. Aku menduga dia akan terus bernyanyi. Tapi, dugaanku salah. Dia berhenti bernyanyi dan menatapku dengan pandangan mata yang sama seperti saat pertamakali kita bertemu tadi. Hangat dan tidak bisa aku mengerti. Pandangan mata tersebut terus menghantuiku sampai membuatku tidak bisa tidur nyenyak memikirkannya.

Karena hal itu, keesokan harinya, aku kembali sengaja datang pagi-pagi berharap dia masih ada di sana. Dan harapanku terkabul. Dia berada di sana. Aku tidak tahu di mana dia tidur semalam. Apa dia tidur di bangku itu, atau pergi ke suatu tempat yang lebih nyaman. Aku tidak tahu. Yang jelas, dia telah berada di sana pagi itu. Seakan dia mengerti kalau aku akan datang untuk melihat pandangan matanya.

Cepatlah besar anakku.

Jadilah pintar.

Jadilah presiden”

Dia kembali bernyanyi dengan pandangan mata yang sama. Lembut, sejuk, seakan sebentar lagi hujan akan menepis hawa panas yang menghampiri dalam satu bulan terakhir.

Aku mendekat ke arahnya. Duduk di sampingnya, dan tidak berkata apapun hingga siang hari datang. Dalam kediamanku, dia terus saja bernyanyi, berbicara dengan boneka kesayangannya, dan terkadang tertawa menatapku sembari memeluk erat bonekanya. Terkadang dia menghentikan celotehannya dan diam membisu, membelai anak khayalannya tersebut dalam diam. Di saat aku memperhatikannya, bermacam-macam pikiran berkecamuk di dalam diriku. Siapa wanita gila ini, mengapa dia bisa berada di sini?. Ada apa dengan boneka itu?. Dugaanku dia pasti telah kehilangan anaknya, dan itu sangat menyakitkan sehingga dia tidak mau menerima kenyataan tersebut. Entah anaknya mati, atau diambil orang lain, atau mungkin sebelum lahir sudah tidak bernyawa, aku merasakan sejumput rasa iri yang semakin lama semakin besar. Betapa beruntungnya memiliki seorang yang sangat menyayangimu sehingga ketika kamu mati, dia sangat terluka.

Tepat, saat aku ingin meranjak dari bangku rapuh ini. Berniat meninggalkannya karena rasa iri yang muncul di hatiku semakin besar. Dia berhenti membelai bonekanya. Dengan suatu gerakan cepat, dia mengarahkan pandangannya ke arahku. Lalu tertawa, kemudian tersenyum, dan tertawa lagi. Perasaan takut saat pertama kali bertemu dengannya kembali muncul. Aku langsung bangkit dari dudukku, dan berniat mengambil langkah pertama untuk pergi meninggalkan wanita gila ini sendirian. Dan ketika aku mengambil langkah kedua, aku mendengar suara nyanyiannya di belakangku.

Continue reading

Mimpi Pohon Tua

Seorang diri, aku sangat senang melihat langit malam yang dipenuhi benda-benda langit. Kakakku pernah bilang, kedipan cahaya bintang yang aku lihat saat ini, bisa saja merupakan pesan masa lalu darinya yang mungkin telah mati ribuan tahun yang lalu. Sebuah tanda yang mengatakan bahwa dirinya pernah ada, menjadi salah satu bagian dari milyaran bintang-bintang yang bertebaran di setiap sudut ruang alam semesta. Jika cuaca cerah dan awan beserta hujan tidak menghalangi, setiap malam aku pasti akan melakukan hal yang sama, berjalan pelan menuju puncak sebuah bukit kecil yang terletak di pinggiran kota, dan di pertengahan jalan, aku akan memisahkan diriku dari jalan yang biasa dilalui orang untuk sampai ke puncak bukit, menuju sisi lain bukit kecil yang di sana akan aku temui sebuah pohon besar yang berusia ratusan tahun. Di hadapan pohon besar tersebut, aku biasanya menatapnya dari bawah ke atas, kemudian melepas sepatuku dan perlahan memanjat pohon besar tersebut dengan senter yang aku jepitkan di mulut.

Aku hanya membutuhkan waktu sekitar 4 menit untuk sampai ke puncak tertinggi, dan turun sedikit menuju dahan yang cukup nyaman dan kuat, untuk menyandarkan diriku yang kecil. Setelah itu, seperti biasa, aku mematikan senter yang aku bawa dan memasukkannya ke saku celanaku yang kusam, kemudian dengan tenang aku menatap langit, menghitung tiap-tiap bintang sebanyak yang aku bisa. Mengagumi keberadaan mereka yang telah lama ada sebelum keberadaanku. Kalau aku bosan menghitung bintang, aku akan menutup mataku, dan kemudian membiarkan diriku hanyut dalam kesunyian yang terkadang diselingi oleh suara-suara binatang malam yang sibuk mencari makan malamnya. Jika sudah seperti ini, aku lebih tertarik mendengarkan apa yang hewan-hewan malam lakukan.

Jangkrik jantan seringkali menyanyikan lagu-lagu cinta yang mereka persembahkan untuk para jangkrik betina yang sedang bercengkrama di sela-sela rerumputan. Hukum rimba berlaku di sini, para jangkrik betina secara insting lebih menyukai pejantan bersuara lantang dan berwibawa, sehingga jadilah nyanyian mereka terdengar seperti teriakan anak-anak muda generasi tawuran. Sebuah lagu cinta yang diselingi makian, akan selalu berakhir dengan pertemuran masal konyol yang seru untuk didengarkan.

Lain lagi dengan ular, dia lebih memilih untuk tetap berada di dalam sarangnya yang tepat berada di sisi lain pohon besar ini. Pada awalnya, aku terganggu dengan kehadirannya, tapi dia tidak melakukan apapun terhadapku selama enam tahun aku bersandar di pohon ini. Selama enam tahun tersebut, kami tidak terlalu banyak bicara seperti layaknya orang yang berada di rumah yang sama. Namun, aku bisa memahami itu, aku dan ular adalah makhluk yang lebih senang menyendiri daripada bersama dengan koloni yang hanya akan menimbulkan rasa ketidaknyamanan.

Selanjutnya, burung hantu adalah burung yang selalu aku lihat kehadirannya tepat di pohon yang berseberangan denganku. Dia selalu diam, tenang tanpa gerakan apapun selain menggerakkan kepalanya yang aneh, kemudian dengan sebuah gerakan kilat, dia menukik tajam mencengkram binatang kecil, seringkali tikus, dalam satu kali gerakan dan kemudian melahapnya dengan kejam di atas pohon. Setelah kenyang, dia akan bergerak pergi menuju tempat lain untuk mencari mangsa lain. Sehingga, aku sama sekali tidak pernah berbicara dengannya.

Satu-satunya yang rajin mengajakku bicara adalah pohon besar tua tempat aku bersandar ini. Dia bagaikan seorang kakek tua yang senang menceritakan kisah-kisahnya di masa muda dulu, selalu tertawa sepahit apapun cerita masa lalu yang dibawakannya. Dalam perbincangan tersebut, aku lebih banyak berada di pihak pendengar yang baik dan seringkali bosan. Seperti orangtua pada umumnya, dia senang sekali menceritakan hal yang sama berulang-ulang, dengan ekspresi yang sama, tidak peduli pendengarnya sudah mendengarkan hal tersebut berulangkali darinya. Namun, hari ini, dia membawakan sebuah cerita yang berbeda, sebuah pesan kematian.

“Besok aku akan mati,” katanya dengan nada yang pilu dan terdengar pahit.

Aku membuka mataku, dan menjauhkan punggungku dari tubuhnya dengan ekspresi terkejut. Ular yang sedari tadi terlihat tidur, ternyata masih memasang telinganya, dia membuka matanya dan mendesis kencang.

“Apa maksudmu orangtua?” si ular bertanya sembari mempermainkan lidahnya yang mengeluarkan desisan yang megnerikan. Dari desisan yang tidak biasa tersebut, aku bisa menduga dia kebingungan dengan ucapan rumah tempatnya tinggal. Setelah itu, dia mengalihkan pandangannya ke arahku. Pandangan kita menyiratkan hal yang sama.

“Ya, seperti yang aku bilang tadi”

Dia berhenti sejenak menarik nafas.

“Besok aku akan mati.”

Ular mendesis.

“Dari mana kamu tahu takdirmu orangtua?”

“Aku baru saja terbangun dari mimpiku yang menggambarkan aku akan mati besok karena bunuh diri dengan dahan-dahanku yang tiba-tiba menjadi sebuah besi yang bergeririgi tajam,” ujarnya sendu dengan nada tidak bersemangat.

Ular tertawa, dan ini pertamakalinya aku tahu kalau pohon pun ternyata bisa bermimpi dan dia percaya mimpinya tersebut bisa menjadi nyata.

“Jangan bercanda!. Kamu hanyalah sebuah pohon, dan sebuah pohon tidak akan pernah bisa bunuh diri.”

Tentu saja, aku sepakat dengan apa yang dikatakan ular, bagaimana mungkin sebuah pohon bunuh diri jika untuk merontokkan kulitnya saja dia membutuhkan lumut dan cacing-cacing. Namun, si pohon tua tidak bergeming.

“Aku akan mati besok.”

Ular kembali mendesis dan beranjak kembali ke tempat tidurnya, menganggap kata-kata pohon tua tadi hanyalah igauan konyol yang keluar dari pohon yang sudah bosan hidup.

“Baiklah,” aku membuka percakapan yang sudah terhenti oleh kesunyian sekitar belasan menit lalu. Aku berniat mengacuhkan ucapan pohon tua seperti apa yang ular lakukan. Tapi, rasa penasaran membuatku tidak tenang dengan kesunyian yang tidak biasa dari pohon tua yang biasanya cerewet dengan kisah-kisah yang telah dilaluinya.

“Apa yang membuatmu yakin nyawamu akan berakhir besok orangtua?.”

Pohon tua membuka mulutnya, setelah sebelumnya dia menatapku dengan tatapan sayu.

“Sudah berapa lama kamu berkenalan denganku?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku. Aku menggumam.

“Sekitar enam tahun.”

“Bukan waktu yang lama bukan?”

Aku mengangguk, relatif, pikirku mencoba memahami arah pertanyaannya.

“Selama itu, sudah berapa banyak bintang yang kamu hitung?”

Baiklah, sebuah pertanyaan sulit. Aku sama sekali tidak ingat berapa banyak bintang yang aku hitung selama ini. Mungkin sudah jutaaan, atau bahkan mungkin sudah milyaran, aku tidak tahu pasti.

“Tentu saja, mana mungkin kamu ingat. Ada terlalu banyak bintang yang berserakan di atas sana. Aku yakin, pasti ada bintang yang telah kamu hitung berkali-kali karena kamu lupa pernah memasukkannya ke dalam hitunganmu. Seandainya bintang tersebut tahu, dia pasti akan menangis, itupun seandainya dia punya air mata.”

Pohon tua berhenti sejenak. Dia mengarahkan pandangannya ke langit malam.

“Itulah aku, salah satu dari milyaran bintang tersebut. Tidak peduli seindah apapun, seterang apapun, setua apapun, kalau banyak yang memiliki ciri-ciri yang sama denganmu, kamu hanyalah sesuatu yang biasa walaupun bagi yang pertama kali melihatnya itu adalah sesuatu yang menakjubkan. Lalu, seiring perjalanan waktu, tidak akan ada yang peduli dan sadar jika kamu menghilang dari tempat kamu berada karena banyak yang bisa menggantikan tempatmu tersebut. Seperti aku, kalaupun aku mati, kamu pasti akan menemukan pohon yang lain untuk bersandar, ularpun tidak akan menangisi kematianku.”

Dia kemudian menunjuk satu titik besar yang tergantung di langit. Titik tersebut merupakan titik terindah yang bahkan karena keindahannya, beberapa orang melakukan pemujaan berlebihan padanya tanpa memperhatikan betapa banyaknya bopeng dan guratan kusam yang menjalar di seluruh bagian tubuhnya, orang-orang di tempatku memanggilnya bulan atau terkadang jika mereka sedang dibuai cinta, mereka memanggilnya dewi malam. Meskipun keindahan dan cahaya terangnya hanyalah pinjaman cahaya matahari, bintang-bintang pemilik cahaya yang berada di belakangnya terlihat tidak berarti apa-apa selain sebagai penghias keindahannya di atas langit. Seakan, bulanlah tokoh utama dalam panggung langit ciptaan tuhan. Sesuatu yang mungkin menimbulkan sedikit rasa iri di hati sesuatu yang bukan apa-apa.

Pohon tua mendesah, kemudian diam, hanyut dalam pikirannya. Aku mencerna perkataannya dengan seksama mencoba mencari komentar yang tepat. Tapi, meski tidak terungkapkan, aku mengerti dan memahami maksud perkataannya. Sesuatu yang wajar, akupun terkadang merasakan hal yang sama dengan apa yang dirasakannya. Hidup di tengah-tengah sekumpulan wajah yang sama namun tidak memiliki sesuautu yang bisa ditonjolkan, aku membuatmu terkadang membenci dirimu sendiri dan kemudian mulai menyalahkan keadaan. Tapi, apa yang bisa dilakukan selain menerimanya karena keadaan tersebut, terkadang adalah sesuatu yang tidak bisa diubah sekuat apapun mencoba mengubahnya.

“Aku mengerti orangtua. Tapi apa yang bisa kita lakukan. Itu adalah sesuatu yang seperti tidak bisa diubah bagaimanapun caranya.”

“Ya, aku tahu”

Pohon tua mengangguk.

“Aku hanya ingin mengungkapkan apa yang ada di dalam hatiku saja sebelum aku mati besok pagi” katanya sendu.

“Sudahlah orangtua!”

Tiba-tiba terdengar teriakan ular yang sedari tadi aku yakin hanya pura-pura tidur dan ikut mendnegarkan curahan hati pohon tua.

“jangan pernah keluarkan lagi kata-kata kamu akan mati besok itu. Lebih baik sekarang kamu menceritakan kisah masa lalumu seperti biasanya. Aku akan dengan senang hati mendengarkan untuk yang kesekian kalinya. Kamu tahu, apapun yang terjadi, dahan-dahanmu berubah menjadi besi bergerigi misalnya, jangan pernah mencoba mengarahkannya ke tubuhmu yang lebih kuat dari baja itu. Jangan sampai sebuah pohon yang telah berulang kali selamat dan bertahan hidup dari berbagai macam angin topan ganas, mati konyol melalui dahannya sendiri. Tapi, jangan lupa apa yang aku katakan tadi. Dahanmu tidak kan pernah bisa berubah menjadi besi bergerigi”

Pohon tua besar diam, mencoba menyerap kata-kata ular yang membujuknya untuk menghapuskan pikiran konyol yang berasal dari mimpinya, kemudian berkata pelan.

“Aku akan mati besok”

Ular mendesis keras kemudian meletakkan kepalanya diatas lingkaran tubuhnya seperti semula. Sepertinya dia sudah tidak peduli lagi dengan segala macam ocehan orangtua yang dianggapnya sebagai omong kosong. Aku mengalihkan pandanganku ke arah si pohon tua, dia mengacuhkan kata-kata ular. Dia menutup matanya kemudian menghirup udara yang ada di sekelilingnya perlahan-lahan. Seakan-akan dia ingin menikmati setiap detik yang tersisa dari hidupnya yang diyakininya akan berakhir besok melalui dahan-dahannya yang tiba-tiba saja berubah menjadi besi tangan bergerigi. Aku tidak berniat mengganggunya. Jadi, aku kembali bersandar ke badannya dan menatap langit kemudian menghitung bintang hingga sekitar satu jam kemudian aku pamit pulang. Pohon tua mencoba menahan tangisnya dan mengucapkan kata-kata perpisahan kepadaku yang telah menemaninya selama lebih dari enam tahun.

“Ya, terimakasih banyak atas sandaran yang kamu berikan selama enam tahun ini pohon tua. Aku sangat senang bisa bersahabat denganmu.”

pohon tua kembali menangis keras, dan kemudian mengecilkan suaranya karena takut akan membangunkan ular yang sedang tertidur nyenyak.

“Sampai jumpa di alam sana teman”

Aku mengangguk kemudian berjalan pulang.

***

Pagi-paginya aku terbangun mendengar suara kerumunan orang yang berjalan santai di jalan depan rumahku. Cepat aku bangun dari kasur dan berjalan menuju jendela yang mengarah ke jalan tersebut. Di sana, aku melihat belasan laki-laki bertubuh kekar dengan tawa yang keras muncul di sela-sela percakapan dan langkah kaki mereka. Aku bisa melihat jelas setengah di antara mereka membawa mesin berukuran sedang dengan besi bergerigi yang sepertinya baru saja diasah. Mereka berjalan pelan menuju bukit kecil pinggiran kota. Setelah mereka berlalu, sembari aku berjalan pelan menuju ke tempat tidurku dan sedetik kemudian kembali tertidur lelap.

Kuburan Tua

Seseorang duduk di samping sebuah kuburan tua yang terdapat di pedalaman hutan, yang sudah lama tidak terjamah tangan manusia. Orang tersebut adalah manusia pertama yang menyentuh tempat kuburan itu berada, setelah sekian lama kuburan tersebut ditinggalkan di tengah hutan yang lebat ini. Kuburan tersebut hanyalah sebuah gundukan tanah dengan penanda kuburan yang dulunya terbuat dari kayu setinggi leher manusia dewasa. Sekarang saat orang tersebut mencapai kuburan tua itu, kayu penanda kuburan tersebut sudah jatuh menyatu dengan tanah, lapuk dimakan usia. Gundukan yang menandakan kuburan tersebut juga sudah dipenuhi oleh rumput dan tanaman liar yang tidak berbeda dari sekelilingnya. Kalau saja tidak ada batu yang sengaja dibuat mengelilingi kuburan tersebut agar gundukan tanah tersebut tidak roboh, pasti orang tersebut tidak akan mengenali bahwa gundukan yang ada dihadapannya adalah sebuah kuburan dan menginjaknya tanpa dipenuhi perasaan bersalah.

Mata orang tersebut tidak berhenti menatap gundukan kuburan yang berada di sampingnya, meski dia sudah berada di sana untuk waktu yang cukup lama. Orang tersebut berpakaian seperti seorang tentara yang sudah memasuki usia pensiun, bertopi rimba yang sudah usang, memakai kacamata dengan model lama untuk membantu penglihatan kedua matanya yang sudah menguning. Walaupun terkesan ringkih, dia masih bisa berlari marathon seperti masa kejayaannya dulu, walau tentu saja, dia tidak akan pernah bisa lagi mengalahkan rekor terbaiknya.

Orang tua berpakaian tentara tersebut tiba-tiba mengambil sesuatu dari ransel gunungnya, yang diletakkan di sampingnya setibanya dia di kuburan tua tersebut. Dia mengeluarkan sebuah golok yang dia beli di sebuah pasar tradisional yang tidak terlalu jauh dari rumahnya. Kakek tua tersebut kemudian berdiri, menghela nafasnya yang lelah, memperbaiki letak topi rimbanya dan mulai merambah tumput-rumput liar yang menutupi gundukan kuburan tua yang ada di depannya. Dengan telaten dan penuh ketelitian, dia perlahan membersihkan semua hal yang dirasanya mengganggu penglihatannya di kuburan ini. Saking telitinya, dia mencabuti semua rumput yang bahkan baru hari ini melakukan fotosentesis, dan seekor burung harus rela kehilangan sarangnya dipindahkan ke tempat lain oleh sang kakek. Orang tua ini bekerja hingga lebih dari setengah hari membersihkan kuburan tua dan tempat di sekelilingnya, menjadi sebuah tanah yang cukup lapang baginya untuk mendirikan sebuah tenda di sisi kuburan tua tersebut.

Si kakek memandang puas hasil pekerjaannya. Kuburan tua yang menjadi tujuan perjalanannya melalui hutan rimba yang dalam selama lebih kurang tiga hari tiga malam, telah menjelma menjadi sebuah kuburan yang kalaupun tidak bisa dikatakan terlihat baru, kuburan ini terlihat menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Lumut-lumut yang menyelimuti batu-batu penyangga gundukan telah dia buang habis, gundukan tanah ditinggikan dan diperbarui, dan yang paling mencolok, sebuah batu penanda kuburan yang benar-benar penanda kuburan tertanam kuat diujung kanan kuburan tersebut. Kakek berpakaian tentara ini sengaja membawa penanda kuburan yang beratnya nyaris setengah dari bawaanya dalam perjalanan ini, khusus untuk orang yang telah lama berada di dalam kuburan tersebut. Bahkan, tidak ada seorangpun yang tahu, tidak juga cucu kecil yang disayanginya, penanda batu tersebut dia sendirilah yang membuatnya dengan hati berbunga dan terkadang diselingi tangisan mengingat betapa dia sangat mencintai orang yang berada dalam kuburan tersebut, seorang perempuan bermata lentik yang terpaksa dia bunuh meski dia begitu mencintainya.

Kakek tua tersebut tersedu pilu di tengah gelapnya malam. Memandangi kuburan yang telah dibersihkannya tadi siang yang sekarang diterangi cahaya api unggun yang di bangunnya di antara kemahnya dan kuburan tempat orang yang dicintainya bersemayam.

Seandainya dan seandainya, berulang kali kata-kata tersebut keluar dari mulutku setiap hari, sepanjang tahun, sepanjang waktu, seumur hidupku yang menderita karena harus bersama dengan orang yang tidak aku cintai dan tidak bisa terlepas darinya”

Dia menenggak minuman keras yang ada ditangannya sampai habis, dan menyeka yang tersisa di bibirnya dengan lidahnya yang panjang.

Seharusnya aku tidak meninggalkanmu sendirian di sini waktu itu. Tapi, kamu tahu, mencabut nyawa sendiri tidak semudah mencabut nyawa orang lain. Terutama, setelah aku tahu kalau kematianku bisa berakibat buruk terhadap orangtua yang aku sayangi.”

Dia berhenti sejenak, mengambil goloknya yang basah dan kotor terkena tanah.

Tapi, sekarang kedua orangtuaku telah lama mati. Wanita laknat yang setiap hari tidak memperdulikan perasaan benciku padanya juga telah mati, berikut dengan semua anak dan cucu yang di dapatkannya dariku juga telah mati. Tidak ada yang tersisa selain seorang anak kecil yang aku angkat sebagai seorang cucu. Tapi, dia tidak akan menyesal menjadi cucu angkatku. Sebuah rumah dan ribuan hektar kebun anggur telah aku daftarkan atas namanya,”

Orangtua itu berhenti sejenak berbicara, dan mengambil sesuatu dari ranselnya yang terletak di dalam kemah, dan bergerak menuju kuburan tua itu bersama sesuatu tersebut, sebuah golok tua yang sudah karatan dengan bekas darah yang tidak terlalu lama tertumpah.

Aku sudah menghilangkan ketakutan tidak beralasan yang aku endap selama bertahun-tahun. Seharusnya dari dulu aku mengakhiri semua ketakutanku yang konyol itu. Kamu tahu, seandainya aku melakukannya puluhan tahun lalu, kita pasti sudah bertemu di alam sana, dengan kau menjadi bidadariku di neraka.”

Orantua tersebut tertawa kecut mendengar candaannya sendiri yang tidak lucu.

Selamat malam,” dia tersenyum sembari menebas lehernya dengan sekali gerakan. Tidak ada keraguan sedikitpun, terlebih dia sudah berlatih menebas banyak leher hanya dalam satu hari, dan beberapa hari kemudian, tidak ada yang tersisa darinya selain tulang belulang yang menunggu waktu untuk menyatukan dirinya dengan tanah.

Benih Baru

Rasa cinta berguguran di tenah musim gugur

dipatahkan oleh angin dingin musim kering

tidak selamanya rasa itu gersang

dia mengendap untuk sementara waktu

berbenih kembali di musim semi,

menumbuhkan akar-akar di tanah yang dikira telah mati oleh burung-burung

lihatlah ke atas !

Cinta yang kamu sangka takkan tergantikan

telah mengetuk-ngetuk kulit ranting-ranting

mencari jalan keluar, mengejar matahari

beberapa waktu bergeliat,

kemudian merekah,

menyuburkan kembali senyum di kota mati